TERUNGKAP! 7 Eleven Hingga Debenhams Bukti Tumbangnya Bisnis Ritel

JAKARTA – Transformasi gaya konsumsi masyarakat akhir-akhir ini memicu ambruknya sejumlah bisnis ritel ternama di dunia.

Lebih dari 5.000 toko ritel di berbagai negara akhirnya ditutup lantaran tak tahan menanggung kerugian berkepanjangan. Mereka kerepotan membendung serbuan para pedagang online yang menawarkan layanan lebih praktis, murah, dan cepat. Macy’s, JC Penney, Sears, dan Kmart adalah beberapa perusahaan ritel kelas dunia yang mengumumkan penutupan toko dalam jumlah banyak tahun ini.

Daftar toko-toko yang bakal tutup pun diperkirakan akan terus bertambah banyak pada beberapa tahun mendatang. Sejumlah perusahaan ritel besar yang menutup tokonya pada 2017 adalah Sears dan Kmart. Dua perusahaan yang bernaung dalam satu grup tersebut sudah menutup 358 toko pada tahun ini.

Bahkan pada Januari 2018 mereka sudah merencanakan menutup 63 tokonya. Para pegawai di 45 toko Kmart dan 18 toko Sears mengungkapkan bahwa musim liburan ini merupakan masa kerja terakhir mereka di perusahaan itu. “Penurunan penjualan akan mulai terjadi pada 9 November dan lokasi-lokasi itu akan ditutup pada akhir Januari 2018,” ungkap Sears Holdings dalam pernyataannya seperti dikutip Clark.com.

Para pegawai yang terkena dampak penutupan toko akan menerima pesangon dan diberi tawaran melamar pada posisi yang terbuka di toko-toko yang belum tutup. Adapun JC Penney telah menutup sedikitnya 138 toko tahun ini. Lebih dari 100 toko JC Penney sudah ditutup selamanya pada akhir Juli lalu.

BERITA TERKAIT +

Baca Juga: GAWAT! Toko Ritel Berguguran, 1.200 Karyawan Jadi Korban Terkena PHK

“Kami berencana menutup 138 toko pada Maret, tapi penurunan penjualan berkurang sejak Mei karena pengunjung meningkat setelah pengumuman penutupan dibuat,” ungkap pernyataan JC Penney. Hampir semua toko ditutup pada 31 Juli kecuali beberapa toko tetap buka hingga September.

Macy’s juga menutup 68 toko tahun ini. Perusahaan itu mengonfirmasi pada Februari lalu bahwa mereka akan menutup sekitar 34 toko selama beberapa tahun mendatang setelah penutupan 68 toko tahun ini. Serbuan penjualan via online juga melimbungkan Payless Shoe Source yang akhirnya menutup 900 tokonya pada tahun ini.

Pada Agustus lalu, perusahaan ini mengumumkan telah melakukan restrukturisasi. Dalam dokumen pengajuan kebangkrutan, perusahaan ritel sepatu ini menyatakan memiliki 4.400 toko di berbagai penjuru dunia. Jumlah tersebut direvisi menjadi 3.500 toko pada pengumuman terbarunya.

Penutupan juga dilakukan Vitamin World di 51 tokonya pada tahun ini. “Perusahaan itu telah mengajukan proteksi kebangkrutan dan berencana menutup puluhan toko dengan penjualan buruk,” papar laporan The Wall Street Journal. Berita buruk juga bakal dialami para pencinta teh.

Starbucks akan menutup semua toko ritel Teavana yang berjumlah 379 toko setelah mereka mereviu strategi bisnisnya. Sebanyak 379 toko Teavana yang umumnya berada di mal memiliki kinerja buruk. “Kami telah berupaya meningkatkan penjualan melalui pernik-pernik kreatif dan desain toko baru, tapi itu tidak berguna,” papar pernyataan Starbucks sebagai pemilik brand Teavana.

Teavana akan ditutup tahun depan. Menjelang musim belanja liburan 2017, pakar keuangan Clark Howard memperingatkan perihal kartu hadiah (gift card) yang kemungkinan tidak akan bernilai jika toko atau restoran pemilik kartu itu tibatiba tutup.

Banyak pengamat meyakini penutupan toko itu sebagai upaya mengembalikan kesehatan perusahaan ritel yang kondisi keuangannya memang buruk. Meski demikian mantan eksekutif Neiman, Marcus, dan Sears, Steven Den nis, menyatakan penutupan toko itu merupakan sinyal peringatan bahwa ritel sedang dalam siklus kematian.

“Penutupan toko itu merupakan obat mujarab yang diyakini para investor di Wall Street. Daripada menutup ratusan toko, retailer seharusnya memperbaiki masalah dalam bisnis mereka,” kata Dennis seperti dikutip Business Insider. Penutupan bisa disebabkan kurangnya investasi pada toko-toko fisik.

Baca Juga: Berawal dari Toko Biasa, Kini Kroger Menjadi Retail Terbesar Nomor 2 di AS

Para pebisnis ritel juga gagal melakukan diferensiasi dari para pesaing. “Para retailer tenggelam dalam kesamaan, baik pada produk, tampilan maupun pengalaman. Kondisi ini terlihat di sebagian besar toko,” kata Dennis. Adam Ioakim, Manajer Umum ShopperTrak untuk Australia, Selandia Baru, dan Asia Tenggara, menjelaskan, banyaknya toko yang tutup tersebut disebabkan naiknya biaya dan persaingan internasional.

“Efisiensi jaringan suplai dapat memengaruhi ini sehingga produk dapat cepat sampai dari manufaktur ke toko,” ungkapnya. Ioakim memperingatkan pasar yang akan semakin menantang. Para retailer harus bekerja lebih keras untuk setiap transaksi. Kuncinya adalah adap tasi pada perubahan yang diinginkan konsumen dan bagaimana mereka berbelanja.

“Konsumen memiliki banyak pilihan, termasuk di toko online dan mobile,” paparnya. Pengamat ritel David Grasso menilai, kalangan milenial mendorong perubahan pola konsumsi sehingga lebih memilih membeli produk secara online. Meski demikian, penjualan secara online sebenarnya masih lebih kecil bila dibandingkan dengan penjualan lang sung.

“Jika Anda melihat statistik, belanja online masih sangat kecil daripada total penjualan ritel langsung, kurang dari 10%. Tapi jika Anda melihat tren, pertumbuhannya sangat cepat dari tahun ke tahun,” paparnya. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menilai dunia bisnis ritel tengah mengalami jungkir balik akibat transformasi gaya konsumsi.

“Di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan seluruh dunia, ritel itu sedang amburadul dan dalam proses transformasi traumatis,” katanya dalam paparan realisasi investasi triwulan III-2017 di Jakarta pekan lalu. Menurut Tom—sapaan akrab Thomas—, maraknya penutupan pusat perbelanjaan di AS sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Online>, Pengusaha Ritel Minta Insentif Listrik" href="https://economy.okezone.com/read/2017/11/01/320/1806767/agar-tak-kalah-saing-dengan-situs-belanja-online-pengusaha-ritel-minta-insentif-listrik">Agar Tak Kalah Saing dengan Situs Belanja Online, Pengusaha Ritel Minta Insentif Listrik

Mantan Menteri Perdagangan itu menilai fenomena maraknya penutupan toko ritel tidak bisa di lihat dari satu sisi saja. “Saya merasa ada pergeseran dari offline ke online meski ada yang bilang porsi online masih kecil sekali. Tapi walau kecil, dampaknya bisa berkali lipat,” katanya.

Pergeseran gaya konsumsi barang ke pengalaman, menurut Tom, juga marak terjadi saat ini. Ia menilai saat ini orang sudah tidak lagi terobsesi dengan barang mewah atau bermerek, tapi lebih suka pergi ke suatu tempat hanya untuk diunggah ke media sosial.

Hal seperti itu juga terjadi di sektor telekomunikasi di mana kita orang lebih suka melakukan “petualangan” di dunia maya. “Seperti disampaikan Presiden, yang bikin orang bergengsi itu ya selfie dan wefie di tempat wisata yang dahsyat,” terangnya. Di Indonesia, sejumlah toko ritel tahun ini juga melakukan aksi tutup gerai, bahkan ada yang sampai gulung tikar.

Di antara yang tutup adalah 7-Eleven, Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai dan Blok M, Lotus Depart ment Store di kawasan Thamrin, dan toko ritel Debenhams di seluruh Indonesia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan fenomena tersebut sebagai hal yang normal dalam bisnis. Dia mengatakan tumbangnya sejumlah toko ritel terjadi bukan karena penurunan daya beli, tetapi karena pelanggan atau pembeli yang mulai berkurang.

(kmj)

Sumber

TERUNGKAP! 7-Eleven hingga Debenhams Bukti Tumbangnya Bisnis Ritel
Tak Ingin Kerajaan Ritel di RI Tumbang, Begini Saran Menperin hingga Bos Indofood