Mereka Meninggalkan Islam Dan Berkeliling AS Untuk Membahasnya

Orang-orang yang meninggalkan ajaran Islam biasanya dihina atau bahkan juga menghadapi kekerasan. Namun, ada sekelompok orang memutuskan berkeliling Amerika Serikat untuk membantu orang-orang eks-Muslim.

Sepuluh tahun lalu, Muhammad Syed jadi seorang murtad. Dia memutuskan keluar dari Islam. Pria kelahiran Amerika Serikat itu besar di Pakistan dan awalnya beriman '100%' pada Islam.

"Tidak ada keraguan sama sekali saat itu. Semua orang di sekeliling saya juga yakin," kenangnya.

Kemudian pada tahun 2007, dia menyadari sesuatu. Dan ia jadi tidak percaya sama sekali. Ia menjadi seorang eks-Muslim.

___________________________________________________________________________

Ketika masih bocah, Muhammad tertarik pada astronomi, dan film ruang angkasa seperti Star Trek maupun Star Wars.

Dia menganggap dirinya liberal dan orang tuanya berpendidikan S3 alias doktor.

Memasuki usia awal 20-an, dia kembali ke Amerika Serikat, hanya beberapa bulan menjelang serangan 11 September 2001. Ketika Amerika Serikat melancarkan perang, dia bergabung dengan kelompok pengunjuk rasa antiperang.

Pada saat yang sama, beberapa kawannya yang keturunan Pakistan menjadi 'ultrakonservatif'.

"Ada seorang yang saya kenal waktu di sekolah menengah. Kami bersekolah di tempat yang sama. Kami orang yang serupa, dia juga liberal seperti saya waktu itu. Suatu waktu dia memanjangkan janggut hingga hampir setengah meter," tutur Muhammad.

Penampilan temannya itu 'menakutkan' Muhammad.

"Dia berbicara tentang siksa kubur. Dan dia mengatakan bahwa itu hal nyata yang sudah disaksikan langsung oleh orang-orang -sebuah cara berpikir yang bersifat takhayul."

"Sebagai orang yang memiliki latar belakang akademis dan menjalaninya, hal itu agak aneh. Maka selama sekitar setahun saya mempelajari agama."

Muhammad belajar Al-Quran, hadis, dan naskah-naskah lain tentang Islam.

"Persepektif saya waktu itu, Islam itu humanis dan ilmiah -seperti yang disampaikan kepada kita semua."

"Saya ingin memperlihatkan kepada teman saya bahwa perspektif dia adalah salah. Namun ketika saya menelusurinya, menjadi amat jelas bahwa cara pandangnya itu justru yang merupakan perspektif Islam yang sebenarnya."

"Dia benar dan saya salah," tambahnya.

Amerika Serikat, Islam BBC
Muhammad (kanan) mengaku tersentuh jika mendengar bagaimana mereka bisa mempengaruhi hidup mantan-Muslim lainnya.

Pada masa sekitar itu, Muhammad sempat makan malam bersama teman-temannya dan salah seorang di antaranya berhasil sembuh dari leukemia.

"Dia bersyukur pada Allah untuk pemulihannya. Namun benak saya berpikir tentang tingkat kemungkinan orang yang pulih dari leukemia, dan ada persentase pasti tentang itu."

"Saya pikir, 'bagaimana kita tahu pasti: apakah Tuhan yang menyelamatkan kita atau apakah kita masuk dlam persentase yang selamat secara umum?"

"Pada saat itulah saya tahu bahwa yang dikatakannya itu khayalan. Itu bukan hal yang nyata. Itu soal probabilitas."

"Dari sana saya berpikir, 'Saya menyadari bahwa semua itu tidak benar dan saya sudah menyadarinya sejak lama, dan saya sekadar tidak mengakuinya saja."

Apakah Muhammad memilih untuk tidak percaya?

"Itu bukan soal kita ingin atau tidak ingin beriman," kata Muhammad.

"Seperti Anda memahami persamaan Newton untuk gravitasi, jika Anda memahaminya maka Anda memahaminya. Sesudahnya, Anda tidak bisa lagi tidak memahaminya."

Muhammad menyebut keluarganya 'relatif liberal'. "Khususnya ibu saya, yang pikirannya sangat terbuka."

Jadi dia memutuskan untuk menyampaikan kepada keluarga bahwa dia sudah menjadi seorang mantan-Muslim. Tidak seketika, namun sekitar satu atau dua bulan kemudian.

"Mereka jelas terkejut dan terguncang," kenang Muhammad.

Bagi sejumlah umat Muslim, keluar dari agama adalah kejahatan. Sebuah laporan tahun 2016 menyebutkan menjadi murtad, ateis atau tidak beragama -pada prinsipnya- diancam dengan hukuman mati di 13 negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

"Jika Anda mencintai seseorang, Anda ingin yang terbaik bagi mereka," kata Muhammad.

"Jika Anda yakin bahwa dengan mengikuti jalan tertentu, seorang sanak keluarga akan -katakanlah- dibakar api neraka untuk selamanya, sulit untuk menjadi tidak tertekan."

"Banyak tekanan datang dari tempat yang penuh cinta, bukan dari tempat yang penuh kebencian."

Setelah menyadari dia tidak lagi beriman, Muhammad bersikap terbuka dengan mengatakan kepada teman-temannya tentang keyakinannya yang baru.

Dia juga perlu kenal dengan mantan-Muslim lainnya.

Dalam sebuah acara, dia berjumpa dengan Sarah Haider, seorang perempuan yang lahir di Pakistan dan dibesarkan di Texas. Dia menanggalkan Islam ketika berusia '15 atau 16 tahun.'

Sarah waktu itu juga belum pernah bertemu dengan mantan-Muslim yang lain.

"Ketika saya mengetahui Muhammad adalah ateis, saya tidak percaya."

"Saya pikir itu cuma bercanda. Ketika saya tahu bahwa memang dia ateis, saya sangat tercengang."

Sarah menggambarkan orang tuanya sebagai 'konservatif jika dibanding dengan orang tua Barat umumnya', namun tergolong liberal dibanding orang tua Muslim.

"Mereka tidak pernah menzalimi saya. Namun mereka juga tidak pernah gembira dengan pilihan saya ini. Saya ditekan dalam setiap langkah," kenangnya.

"Prosesnya panjang bagi mereka untuk memahami bahwa ini merupakan pilihan intelektual dan bahwa mereka perlu sedikit menghormati hal itu. Namun mereka akhirnya memahami -sementara banyak orang tua mantan-Muslim yang tidak begitu."

"Saya tahu ada mantan-Muslim yang sama sekali tidak berhubungan lagi dengan keluarganya, baik karena ketakutan akan mendpat kekerasan fisik maupun hukuman atau karena keluarga sudah membuang mereka."

Setelah saling bertemu, Muhammad dan Sarah memutuskan untuk berkenalan dengan mantan-Muslim lainnya.

"Sarah pikir tadinya dia hanya satu-satunya," kata Muhammad. "Kami berpikir mungkin ada yang lain lagi seperti kami."

Islam BBC
Di beberapa negara, menjadi ateis atau tidak beragama, tergolong sebagai pelanggaran hukum.

Melalui obrolan sana sini dan forum internet, mereka membangun satu jaringan kecil yang tidak mengikat di kalangan mantan-Muslim dan mengambil langkah lebih lanjut: bertemu langsung.

Muhammad berupaya membujuk mereka lewat telepon. Walau berhati-hati, mereka tetap khawatir jika kaum Muslim radikal akan menemukan tempat kumpul-kumpul mereka.

"Amat menakutkan," kenang Sarah.

"Sejak awal sangat tegang. Sebenarnya saya tidak sepenuhnya setuju dengan gagasan itu. Saya penasaran dan sangat bersemangat namun hati kecil saya juga gugup. Saya tahu saya menempuh risiko walau hanya sekedar datang saja."

Muhammad mengenang 'ada orang yang masuk kamar kecil lama sekali'.

"Saya setengah bercanda ke Sarah bahwa dia mungkin sedang memasang senjata api," tambah Muhammad.

Tapi apakah itu setengah bercanda dan setengah cemas juga?

"Bisa jadi," katanya. "Bisa jadi."

Orang itu kemudian muncul lagi dari kamar kecil tanpa senjata api: dan pertemuan berjalan dan baik dan kabar tentang pertemuan tersebut menyebar.

Pertemuan lainnya berlangsung di bar, cafe, dan restoran di kawasan Washington DC. Ada yang sampai menempuh perjalanan enam jam untuk datang lalu menempuh perjalanan pulang enam jam lagi.

Beberapa orang ternyata menghadapi 'pengalaman sangat buruk,' dan hampir di setiap pertemuan ada yang menangis.

"Ketika kami melihat tingginya kebutuhan pertemuan, kami pikir perlu untuk melakukan lebih jauh lagi," kata Muhammad.

Mereka memutuskan untuk memperluas pertemuan ke kota-kota lain. Pada musim gugur 2013, dia dan Sarah menciptakan lembaga Mantan-Muslim di Amerika Utara atau Ex-MNA, yang secara terbuka menampung 'orang-orang murtad'.

Apakah dia berpikir dua kali?

"Tentu saja. Anda harus mengkaji risikonya. Anda harus menghitung apakah risiko itu sepadan atau tidak," jelas Muhammad.

"Namun tidak ada jalan lain. Harus ada yang mengambil peluang itu. Harus ada yang mewujudkannya."

Tapi kenapa Muhammad melakukannya? Dia bisa saja tidak melakukan apapun dan hidupnya akan lebih mudah.

"Sejujurnya saya tidak melihat jalan lain. Tidak ada orang yang melakukan hal ini, bahkan di berbagai penjuru dunia lainnya," katanya.

"Kami berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan saya punya mentalitas yang tepat."

"Bisa saya katakan, memang begitulah saya dibesarkan. Jika ada yang menghadapi masalah, kita kan berusaha membantunya," tambah Muhammad.

Empat tahun berjalan dan jaringan yang dikembangkan Muhammad dan Sarah -yang dikelola para sukarelawan dengan mengandalkan sumbangan- sudah memiliki sekitar 1.000 orang mantan-Muslim di 25 kota di Amerika Utara.

Kadang ada yang menelepon saat tengah malam, ada pula yang mengaku ingin bunuh diri.

Ada yang mengatakan setelah mengaku kepada keluarganya bahwa dia keluar dari Islam, dia ditodong pistol di kepalanya. Ada pula orang yang kemudian dipaksa untuk ikut ritual pengusiran setan.

Kemudian ada seorang pria yang karena khawatir akan keselamatannya sampai meninggalkan keluarga, yang kemudian malah menyewa detektif swasta untuk mencarinya sehingga dia harus berpindah-pindah sampai enam kali dalam waktu 18 bulan.

Kelompok Mantan-Muslim Amerika Utara, Ex-MNA, menawarkan bantuan lewat berbagai jalan.

"Jika mereka ingin berbicara, kami biasanya menghubungkan mereka dengan seseorang, dari kelompok usia yang serupa, orang yang lebih bisa memahami mereka," kata Muhamad.

"Sering kali diperlukan etnis yang sama. Jadi misalnya, orang Saudi kan bisa memahami orang Saudi lain dengan lebih baik. Di tempat kami ada orang dari sekitar 40 latar belakang etnis berbeda."

Ex-MNA juga menawarkan bantuan yang praktis.

"Ada seorang anak perempuan, yang orangtuanya tidak membolehkan dia sekolah. Dia belajar di rumah, dan karena ditentukan akan segera menikah jadi dia tidak tidak bisa melanjutan studi ke perguruan tinggi. Dia ingin lepas dari itu semua. Dia ingin memiliki kehidupan," jelas Muhammad.

"Kami berhasil menghubungkan dia dengan orang yang punya tempat dan sofa yang bisa dia gunakan. Tidak besar, namun bagi seseorang yang tidak punya apa-apa, itu besar sekali artinya."

Apakah mereka mendapat ancaman?

"Biasanya lewat email atau media sosial," jawab Muhammad.

"Orang-orang yang memaki-maki di internet. Lalu ada orang yang melontarkan ancaman yang tampak serius. Sejumlah orang memang terbukti merupakan ancaman nyata."

"Saat pertama kali menelepon polisi. Mereka tidak memahami masalahnya sama sekali. Namun polisi menghubungkan kami dengan FBI dan mereka memahaminya."

Apakah Muhammad pernah meninggalkan rumahnya karena ancaman?

"Kami membahas hal itu ," tuturnya. "Kami memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah."

______________________________________________________________________

Pada satu Minggu malam di Washington DC, seorang polisi duduk di pintu Ruang 309 di Marvin Center, George Washington University.

Di dalam ruangan sekitar 50 orang --pria dan perempuan, tua dan muda, serta dari berbagai ras-- sabar menunggu lawatan Ex-MNA ke kampus-kampus.

Lawatan keliling itu berawal dari Universitas Colorado Boulder (di sana semua tas diperiksa lebih dulu), kemudian ke Virginia, dan dua hari di Georgia serta Washington DC.

Mereka pindah ke Boston pada Kamis-nya dan ada beberapa acara lain yang direncanakan pada musim semi mendatang. Itu langkah yang berani, yang menurut Muhammad 'mengagumkan'.

Sempat terjadi perdebatan sengit di Georgia namun hanya antara dua hadirin saja.

Di Washington DC, Muhammad didamping oleh Imtiaz Shams, seorang pria mantan-Muslim dari London. Imtiaz merupakan salah seorang pendiri Faith to Faithless, satu kelompok di Inggris yang membantu orang-orang dari berbagai latar belakang yang melepas agamanya.

Dia lebih muda dari Muhammad tapi sama-sama banyak membaca. Dan memiliki penampilan -dan keyakinan- bagai seorang pelaku komedi stand-up.

Pembicaraan bergulir dari teks-teks Islam ke rasisme -dengan banyak menyebut 'kulit putih'- hingga ke masalah di kalangan sayap kiri maupun kanan.

Sebagian dari pengikut sayap kanan menggunakan mantan-Muslim untuk menyudutkan etnis berkulit coklat, kata Muhammad dan Imtiaz. Sebaliknya sebagian kaum kiri 'mencuci-bersih' persoalan dalam Islam sehingga mereka tidak 'menimbulkan kemarahan kelompok minoritas'.

Muhammad pada satu sisi mengkritik Islam, "Ketika orang membahas tentang bagaimana feminis-nya Nabi Muhammad, orang-orang itu (yang membahas tadi) perlu diejek, mereka perlu ditertawakan.

Namun di sisi lain dia juga memujinya.

"Anda bisa menemukan keindahan di dalam Islam," jelasnya kepada para hadirin. "Islam adalah campuran dari banyak, banyak gagasan. Ada yang baik, ada yang buruk."

"Banyak yang sudah ketinggalan zaman, karena agama itu berasal dari abad ketujuh. Tapi tidak berarti semuanya buruk. Secara pribadi, satu dari sejumlah hal baik tentang Islam adalah penekanannya pada amal sedekah'.

Pertemuan itu berakhir dengan tanya jawab, yang diajukan oleh umat Muslim maupun non-Muslim. Semuanya bersikap terhormat. Polisi yang duduk menjaga di pintu dengan kaki bersilang, tampak tertarik.

Sebelum pertemuan, Muhammad mengaku punya keraguan, bukan tentang keputusannya untuk meninggalkan Islam namun apakah menjadi mantan-Muslim yang cukup dikenal itu bermanfaat.

"Tentu semua orang punya momen-momen (keraguan) seperti itu. Biasa, itu manusiawi. Apakah sepadan dengan beban yang ada pada saya?" kata Muhammad.

"Namun di sisi lain, Anda juga bisa melihat sisi baik yang Anda lakukan. Anda melihat banyak orang-orang yang dulu menderita dalam situasi yang buruk, kini dalam keadaan baik."

"Mendengar kisah-kisah itu, sangatlah mengharukan - mendengar bagaimana kami telah bermanfaat bagi hidup mereka."

Anda bisa memberikan pendapat atas artikel ini di Facebook BBC Indonesia, namun mohon kiranya saling menghormati pendapat pihak lain dan tidak menghina SARA (Suku, Agama, Ras, dan Anti-golongan).

Source

Mereka meninggalkan Islam dan berkeliling AS untuk membahasnya
Massa Reuni Aksi 212: Semoga Tahun Depan Ada Lagi
Harus Merangkak demi Berswafoto bareng Quokka agar Tersenyum