Di Mana Jiwa Pahlawan Kita?

Jakarta - Beberapa waktu lalu, di media sosial saya melihat sebuah video mengharukan tentang ketulusan anak dari sebuah desa di Polewali Mandar Sulawesi Barat. Video berita yang sebenarnya sudah tayang dua tahun lalu tersebut menceritakan seorang anak bernama Ali, bocah 6 tahun yang setiap pagi harus bekerja dengan ikut membantu memanen buah langsat di kebun tetangga demi membantu ibunya mencukupi kebutuhan hidup. Sebab sang ibu sudah tak bisa melihat dan mendengar.

Selain membantu ibunya mencari tambahan penghasilan, Ali masih harus mengurus kakak dan adiknya. Sebab, sang kakak mengalami keterbelakangan mental sedangkan adiknya masih berusia 3 tahun. Setiap pagi, Ali menyuapi sarapan kakak dan adiknya sebelum berangkat ke sekolah. Kesibukan bekerja dan mengurus adik dan kakak tersebut sering membuat Ali terlambat ke sekolah, sampai-sampai gurunya pun memaklumi. Kabarnya, sekarang keluarga Ali sudah dapat bantuan pemerintah lewat renovasi rumah dan bantuan dana pendidikan.

Kisah bocah 6 tahun yang sudah mengemban beban hidup berat tersebut begitu menyayat hati, terlebih bagi orang-orang dewasa seperti kita. Orang-orang di media sosial terus menyebarkan video tersebut sembari mengajak berefleksi. Di samping itu, video tersebut membuat saya memikirkan tentang kondisi orang-orang dewasa saat ini; tentang sejauh mana kita memiliki semangat berkorban mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, melayani orang lain ketimbang sibuk melampiaskan hasrat pribadi.

Di usianya yang baru 6 tahun, Ali sebenarnya punya kebebasan untuk bermain dan belajar seperti anak-anak seusianya. Namun, Ali menjalaninya bahkan dengan ketulusan dan kepolosan seorang bocah, seolah-olah itu bukan beban hidup yang harus diratapi. Bocah lain mungkin akan menyerah atau hanya menangis. Kisah Ali menjadi sangat relevan dijadikan bahan renungan, terlebih tentang pentingnya nilai-nilai pengorbanan di momentum Hari Pahlawan.

Sebab, kita melihat bagaimana orang-orang saat ini begitu sibuk memenuhi keinginan pribadi. Kesadaran berkorban dan berbuat bagi orang banyak kian mengikis. Orang semakin mesra dengan egoismenya. Orang semakin meninggalkan kesadaran serta kebesaran hati untuk memberi kemanfaatan bagi sesama. Bahkan, belenggu egoisme telah demikian kuat sampai-sampai mendorong orang begitu mudah memaksakan kehendaknya, menuding dan menyalahkan orang, membenci, dan menyerang yang berbeda pandangan. Di media sosial, hal tersebut tergambar lewat fenomena saling hujat dan ujaran kebencian yang banyak bertebaran.

Kebohongan

Kita bahkan melihat, menguatnya belenggu egoisme telah menjerumuskan orang melakukan kebohongan publik yang merugikan masyarakat luas. Kabar-kabar tentang kasus korupsi di kalangan pejabat, kasus suap yang menimpa penegak hukum, plagiarisme di kalangan akademisi, sampai kasus-kasus penipuan yang dilakukan para pengusaha dan pelbagai kalangan, menjadi gambaran betapa orang-orang sudah semakin terjerembab jatuh dalam kubangan egoismenya.

Kita tentu masih ingat seorang mahasiswa doktoral yang sempat digadang-gadang sebagai penerus B.J Habibie, namun ternyata melakukan kebohongan publik atas pelbagai klaim dan informasi pribadinya. Kita juga ingat penipuan yang dilakukan pengusaha jasa travel umrah, hingga para jamaah merugi ratusan miliar. Belum pelbagai kasus korupsi pejabat dan kasus suap yang menimpa kalangan penegak hukum. Alih-alih mengerahkan pikiran dan tenaga demi kemanfaatan bersama, mereka justru terperosok dalam jurang keegoisan, keserakahan, dan obsesi pribadi, sehingga menerabas batas-batas aturan, hukum, dan etis, yang kemudian merugikan publik secara luas.

Gotong Royong dan Pengorbanan

Peringatan Hari Pahlawan 10 November menjadi momentum menguatkan kesadaran untuk mengutamakan kepentingan bersama. Sebab, bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa yang ditegakkan atas dasar kebersamaan. Kebersamaan dan persatuan menjadi nilai yang ditanam dalam-dalam oleh para pendiri bangsa ketika mendirikan bangsa ini, mengingat kemajemukan yang menjadi realitas bangsa. Dalam catatan sejarah, setelah menyampaikan lima dasar Indonesia merdeka, yang kini kita kenal dengan Pancasila, Sukarno sempat mengusulkan untuk memeras lima sila itu menjadi Trisila, yakni socio-nationalism, socio-democratie, dan Ketuhanan —jika Pancasila tidak disetujui. Bahkan, Sukarno memeras lagi tiga dasar tersebut menjadi Ekasila, atau satu dasar tunggal, yakni "gotong royong" (Agustinus W. Dewantara: 2017).

Meskipun akhirnya lima dasar (Pancasila) yang disepakati, catatan sejarah tersebut menggambarkan betapa pentingnya nilai gotong royong dalam perjalanan bangsa ini. Sukarno melihat gotong-royong, semangat bahu-membahu, tolong-menolong, kebersamaan yang dilandasi kesadaran saling menghargai, merupakan nilai yang sudah tertanam kuat di masyarakat Nusantara sejak dahulu. "Gotong-royong" merupakan kata-kata tulen khas Indonesia, yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain. Di tengah menguatnya paham liberalisme dan individualisme Barat, Indonesia muncul dengan gagah sebagai negara gotong-royong.

Prinsip gotong-royong mampu menyatukan kemajemukan bangsa dan mengikatnya dalam ikatan persaudaraan, untuk sama-sama membawa bangsa melangkah ke depan. Maka menjadi ironis jika masyarakat kita saat ini justru mulai meninggalkan spirit gotong-royong dan terperosok dalam mental individual, sehingga merebak kasus kebohongan publik, serta menguatnya sikap egoisme yang kerap memantik pertikaian dan merusak persaudaraan sebangsa.

Nilai gotong-royong hanya akan tumbuh jika ada kesadaran untuk berkorban. Idealnya, beragam kepentingan baik yang dibawa masing-masing individu maupun kelompok atau golongan, jangan sampai merusak kepentingan bersama. Di titik inilah dibutuhkan semangat kepahlawanan atau pengorbanan dari masing-masing pihak; sebuah kesadaran mendalam untuk mengutamakan kebaikan bersama ketimbang kepentingan pribadi atau kelompok. Jika para pejuang di zaman penjajahan mengorban pikiran, tenaga, dan harta untuk berjuang melawan penjajah, maka di tengah fenomena menguatnya egoisme sekarang, kita perlu belajar mengorbankan kehendak pribadi demi kepentingan bersama.

Jika tak sanggup jadi pahlawan, setidaknya jangan sampai kita menyusahkan orang banyak hanya karena egoisme, keserakahan, dan ambisi pribadi. Sebab jika itu terjadi, betapa malunya kita pada Ali, bocah 6 tahun yang sudah sanggup berkorban, memberi manfaat, dan menjadi pelita penerang bagi keluarganya, bagi sekelilingnya.

Al-Mahfud bermukim di Pati, bergiat di Paradigma Institute Kudus

(mmu/mmu)

Sumber

Di Mana Jiwa Pahlawan Kita?
Hari Pahlawan, Upacara di Atas KRI dan Tabur Bunga di Laut Jawa
Makna Hari Pahlawan di Mata Aura Kasih
Sri Mulyani Ajak Jajaran Kemenkeu Berkorban Bagai Pahlawan
Jelang Hari Pahlawan, Menwa Sukabumi Bersihkan Area TMP Bahagia
Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
Korem 044/Gapo Gelar Upacara Hari Pahlawan dan Nonton Bareng Veteran
Cara Warga Polewali Mandar Peringati Hari Pahlawan
Mengintip Aksi Heroik Para Pahlawan di Museum 10 Nopember
Pahlawan Zaman Now Versi Istri Gubernur Jawa Barat