GMPG Nilai Surat Novanto Seperti Wasiat Orang yang Tak Bisa Apa-apa

GMPG Nilai Surat Novanto Seperti Wasiat Orang yang Tak Bisa Apa-apaKetua GMPG Ahmad Doli Kurnia (Foto: dok. detikcom)

Jakarta – Ketua Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia menyebut surat yang ditulis Novanto semoga tak dicopot sebagai Ketum Golkar dan Ketua dewan perwakilan rakyat menyerupai surat wasiat. Surat itu mengingatkan Doli pada dongeng di sebuah film ihwal pengusaha yang sudah tak dapat apa-apa.

“Itu kayak surat wasiat saja tuh, kayak orang bila dilihat di film-film itu. Kalau ada orang pengusaha kaya pemilik perusahaan, nggak dapat melaksanakan apa-apa, ia tulis surat wasiat bahwa saya maunya ini,” tutur Doli di Jalan Hang Lekiu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (22/11/2017).


Namun, bagi Doli, Partai Golkar tak dapat dikelola mirip perusahaan. Doli menyampaikan seorang pimpinan tak dapat sembarang menunjuk orang lain untuk menggantikannya. Ada prosedur partai yang harus dilalui.

“Nah, pertanyaannya, Partai Golkar perusahaan atau tidak. Ini dikelola dengan cara perusahaan. Ada surat wasiat ditunjuk sama orang, ditunjuk mandatnya,” tuturnya.

Selain itu, Doli menyoroti rapat pleno yang seakan-akan hanya mengakali aliran masyarakat. Golkar disebut ingin membangun gambaran positif dengan melaksanakan perubahan, padahal tidak sama sekali.

“Jadi ternyata kita menyaksikan lagi ada langkah-langkah mirip mengakal-akali saja. Mereka itu seakan-akan ingin membangun image di masyarakat, tetapi ternyata nggak dan ini sudah dua kali. Kemarin kan pleno sebelum SN praperadilan mau dinonaktifkan,” imbuhnya.


Karena itu, Doli mengaku skeptis terhadap setiap pleno yang digelar oleh DPP Golkar. Menurutnya, Golkar diisi oleh orang yang hanya mengutamakan kepentingan langsung dan kelompok.

“Makanya saya bilang, setiap DPP itu mau rapat pleno, saya suka skeptis. Nah, itu terjadi orang yang ada DPP itu mengajarkan mengelola organisasi Golkar dengan mengumpulkan kepentingan langsung dan kepentingan keluarga di atas kepentingan partai. Jadi, saat mau maju untuk perubahan, kemudian dihadapkan dengan kepentingan kelompok dan pribadi, itu mundur lagi,” tuturnya.

Sumber detik.com