Beda Cerita dan Skrip Film yang Bikin Deepika Terancam Dipenggal

Beda Cerita dan Skrip Film yang Bikin Deepika Terancam DipenggalDeepika Padukone di film ‘Padmavati’ (Imdb)

Jakarta – Aktris manis Bollywood, Deepika Padukone, menjadi incaran kelompok kanan India karena memerankan sosok Padmavati dalam film garapan Sanjay Leela Bhansali. Film berjudul ‘Padmavati’ itu dinilai melecehkan sosok ratu dari kaum Rajput.

Ancaman terhadap Deepika muncul dari pemimpin Partai Bharatiya Janata untuk wilayah Haryana, Kunwar Suraj Pal Ammu. Dia menyerukan biar Deepika dan sutradara Bhansali dipenggal. Imbalannya ialah 10 crore rupee atau 100 juta rupee (Rp 20,6 miliar) untuk siapa saja yang dapat memenggal keduanya.

 

 

 

Menyusul provokasi itu, polisi menjaga ketat kediaman keluarga Deepika. Alasan Ammu menyerukan pemenggalan itu ialah film ‘Padmavati’ dinilai menodai gambaran raja dan ratu dari Rajput.

Film ‘Padmavati’ garapan Bhansali ini didasari puisi penyair muslim India ternama pada periode ke-16, Muhammad Jayasi. Sedangkan kisah perihal Padmavati ada di periode ke-14, atau 2 periode sebelum goresan pena karya Jayasi.

 

Deepika Padukone.Deepika Padukone. (Shaun Curry/AFP/Getty Images)

Dalam buku ‘Cultural Leaders of India – Devotional Poets and Mystics: Part – 2’ oleh Madan Gopal (2017), ditulis bahwa Jayasi lahir pada 1493 dan meninggal dunia pada 1542. Puisi Jayasi yang ternama berjudul ‘Padmavat’, yang bercerita perihal Ratu (Rani) Padmini.

Jayasi menyelipkan romansa dalam puisinya itu. Dia juga memadukan elemen tradisional India menyerupai jatuh cinta sehabis melihat lukisan atau bermimpi akan kekasihnya, atau bertemu kekasih di kuil, sampai soal perbincangan dengan burung beo (talking parrot).

Jayasi mendeskripsikan Padmavati atau Padmini sebagai putri Raja Gandharva Sen dari kerajaan Simhala. Padmini diceritakan mempunyai beo kesayangan berjulukan Hiraman, yang ingin membantunya mencarikan pujaan hati.

Sementara itu, dalam cuplikan film ‘Padmavati’ disebut ada belahan romansa antara Padmini dan Sultan Alauddin Khilji. Cuplikan kisah inilah yang menciptakan kaum kanan India marah. Sebab, Padmini seharusnya digambarkan sebagai istri yang setia.

 

 

Alauddin Khilji merupakan Sultan Delhi yang menginvasi kerajaan Chittor. Padmini merupakan permaisuri Raja Chittor, Ratansen.

Dalam buku ‘History of Meywar’, yang ditulis Capt JC Brookes pada 1859, Alauddin berniat menyerang Chittor (ditulis Chittore) pada tamat periode ke-13. Dalam invasi tersebut, Alauddin lalu melihat kecantikan Padmini dan berniat mempersuntingnya.

Padmini merupakan istri yang setia bagi Ratansen, sehingga ia mempertahankan kehormatannya. Jayendra P Sanghani dalam bukunya yang berjudul ‘The Queens Tragedy’ (2014) juga menggambarkan Padmini sebagai sosok yang sangat cantik, terhormat, dan pemberani.

Sanghani lalu menggambarkan Ratansen (Ratan Singh) sebagai raja yang berjiwa kesatria dari Mewar (Meywar). Ratansen memimpin Chittor pada 1302-1303 Masehi.

 

 

Dikutip dari aneka macam sumber, Alauddin menginvasi Chittor pada 1303. Ratan Singh atau Ratansen kalah dalam invasi tersebut.

Namun ada hal yang lalu menciptakan sosok Padmini amat dihormati kaum Rajpur. Ketika invasi berlangsung, Padmini atau Padmavati memimpin ratusan perempuan Chittor untuk melaksanakan ‘Jauhar’ atau menerjunkan diri ke dalam api unggun untuk mempertahankan kehormatan mereka. Tujuan Padmini ialah biar dirinya dan wanita-wanita Rajpur tidak jatuh ke tangan pasukan Alaudin.

Sementara Padmini memimpin Jauhar, Ratansen dan pasukannya melawan pasukan Alaudin. Meski karenanya kalah, sosok Ratansen dan Padmini masih disakralkan oleh kaum Rajpur sampai dikala ini.

Saksikan video 20detik untuk melihat balasan Deepika Padukone dalam film ‘Padmavati’ di sini:

[Gambas:Video 20detik]
Sumber detik.com